
saya jeung Dika xD
Kembali puadanya.. *nada-Olga*
Selama seminggu lalu yang cerah dan bersahaja, telah digelar Pesta Buku Murah 2007 di lapangan Mayo Mayofield. Karena kebetulan tepat di hari Rabu jeung Minggu gue nganggur, gue pun menghadiri acara temu penulis yaitu Moammar Emka dan titit-a Raditnya Dika. FYI, Moammar Emka adalah penulis Jakarta Undercover (1,2,3), sedangkan Dika adalah penulis Kambing Jantan (+Cinta Brontosaurus). Kalo masih ga tau tentang Jakarta Undercover (JU) ato Kambing Jantan (KJ), silakan keluar lewat pintu belakang *tampang-datar.com*. Lanjut, jadi ceritanya gue janjian dateng sama si tai gajah Indah demi melampiaskan napsu bejad kita untuk tanya-tinyi mas-mas penulis tadi itu. Dengan uang pas-pasan, buku JU & KJ, plus otak somplak, kita pun petantang-petenteng ke sono. Dengan lagak sotoy, tentu.
Singkat cerita, hari Rabu-nya emang ketemu ama Emka.
Kesan pertama begitu menggoda.
Yuuki: …….. *jeda* yakin ini Moammar Emka?
Indah: Iya deh, kayaknya. *manggut-manggut*
Yuuki: …… *syok langsung mencret* (boong denk)
Hari esoknya, itu buku Jakarta Undercover gue langsung geletakan entah dimana tanpa gue gubris dan menjadi bangke yang kondisinya sangat mengenaskan. (Maaf, Emka..) …well, ternyata tampang & kelakuan penulis memang bisa berpengaruh terhadap kondisi psikologis pembacanya.
Hari Minggu-nya, untuk menutupi rasa syok lahir batin gue, kita pun dengan semangat nasionalis dateng ke temu penulis Raditnya Dika. Sebagai persiapan, masing-masing bawa pengaman takut bunting mendadak *ini-boong.co.jp* Berhubung ceritanya gue punya jam weker baru di kamar yang kadang-kadang suaranya impoten namun beruntung hari itu bunyinya gagah, gue dateng on-time dong. Begitu duduk di korsi langganan yaitu baris ke-2 dari panggung, gue melihat 2 sosok lelaki ga jelas di deretan paling depan. Awalnya gue curiga mereka orang homo yang salah cari lokasi pacaran. Yang satu megang mic. Wah, MC, nih, gue pikir. Karena lelaki yang satu tereak-tereak promosi pake mic kalo di situ ada Dika, gue pun jadi menebak-nebak jangan-jangan yang di sebelahnya adalah si Dikung. Gue udah mulai anemia karena orang yang di sebelahnya emang cukup tampan. Ya.. pikir-pikir sapa tau si Dika ngga fotogenik & aslinya tuh ganteng. Hyaaa..
Dua puluh menit kemudian tiba-tiba ada orang dengan struktur wajah berantakan dateng.
MC: Okeeeee… ini dia, RADITNYA DIKAAAAA!!! *nunjuk ke mas2-berstruktur-wajah-berantakan yang membabibuta di atas panggung* yyyaa…DIKAA!!! *heboh sendiri*
Anak2 SMP yang ngumpul di depan: KYAAA.. KYAA.. KYAA!!
Buku Cinta Brontosaurus yang sedang gue pegang pun langsung terlepas dari tangan gue dengan tampang yang mulai menunjukkan gejala epilepsi. Jiwaku terguncang.
TIDAAAAAK…DAK…DAK…DAK… *senggama menggema*
Nggak cukup sampe di situ, Dika makin menonjok jiwa gue. Pertama, si doi kayang di panggung. Yap, gue nggak salah nulis, ..kayang. Kedua, dia lempar-lepmar gelas-gelas aqua kayak autis. Ketiga, dengan nyengir kuda, ia memutuskan mau minum pake gayung. Keempat, si doi mulai menunjukkan sifat aslinya, yaitu hiperaktip. Untuk selanjutnya, bukan untuk konsumsi para remaja budiman di sini
Yang jelas, selama kurang lebih sejam, gue udah berasa perut gue kayak 5 kali bolak-balik naik Halilintar. Ntah itu karena kebanyakan ketawa dengan biadab, ato karena nggak kuat iman ngeliat muka ajaibnya Dika *kerjep-kerjep* Tapi setelahnya sih, dengan menyingkirkan halang rintang yaitu anak-anak bau kencur yang rusuh ngeriungin Dika dengan tenaga gozilla gue, gue pun berhasil kenalan ama dia >:D Aaahiahiahia *noraknya-kumat*. Gue cuma bisa senyum najong. Ahiak.
Senyum najong karena inget muka dia mirip Dimas kalo nyengir.
*ngakak ampe mulut berbusa*